Halaman

Sabtu, 22 November 2008

Bagaimana Yahudi melakukan eksodus besar-besaran ke wilayah palestine ?

Bagaimana Yahudi melakukan eksodus besar-besaran ke wilayah palestine ?
Pendudukan dan penjajahan Israel di tanah Palestine yang telah merdeka di latar belakangi oleh The HeartLand Theory yang di anut oleh sebagian besar kaum yahudi. Dalam usahanya untuk menguasai dunia Arab (yang menguasai minyak dunia), termasuk Palestine, seorang palar kimia yang juga menjadi juru bicara gerakan zionisme di inggris pada awal abad ke-20, doctor Chaim Weismann berhasil bekerjasama dengan inggris. Weismann berhasil menemukan acetown, yaitu cairan kimia yang di butuhkan dalam proses pembuatan cordite-sebuah propelan yang bersifat eksplusif. Cordite sangat berguna bagi system persenjataan inggris pada Perang Dunia I (eramuslimdigest ed1 2006:52).
Kemenangan inggris pada Perang Dunia I tidak lepas dari jasa Weismann yang telah menciptakan aseton. Atas kemenangan inggris pada Perang Dunia I tesebut, Weismann di berikan sejumlah uang, bahkan inggris berjanji segala permintaan Weismann akan di kabulkan. Weismann mengatakan “Hanya satu yang saya inginkan”,”Dan itu yang saya inginkan, hanyalah sebuah rumah untuk saudara-saudara saya.” Perdana menteri Inggris David Lyod-George menawarkan kepada Weismann Uganda di Afrika (karena pada saat itu, inggris juga menguasai Uganda), namun Weismann menolak, dan Weismann menunjuk pada sebuah Negara Palestina, dan ia mengatakan “Kami ingin tinggal di wilayah ini selamanya”. Daid Lyod-George terkejut dan segera menghubungi menteri luar negeri Arthur James Balfour dan menyampaikan keinginan Weismann. Hal ini menjadi bahasan utama rapat kabinet, setelah perjanjian rahasia Sykes-Pycot dengna Perancis, Inggris mendapatkan wilayah Palestine dan Yordania, sedangkan Libanon dan Syria jatuh ke tangan Perancis. Inggris menyedari apabila ia mengikuti permintaan Weismann, maka akan menimbulkan kontroversi di dunia, karena pada saat itu, Palestine sudah merupakan Negara yang merdeka yang di diami oleh rakyatnya sendiri, terlebih lagi Palestine letaknya di kelilingi Negara-negara Arab yang anti Israel.

Awalnya Balfour terkejut mendengan permintaan Weismann untuk menduduki wilayah Palestine, dan Balfour kembali menanyakan kepada Weismann, “Tuan Weismann, mengapa harus Palestine ?”, Weismann menjawab “Tuan Balfour yang mulia, jika saya menginginkan paris atau London, apakah anda akan memberikan ?” dengan cepat, Balfour mengangguk,, “Mengapa tidak ?”. Weismann menjawab “Terimakasih tuan Balfour, tetapi kami terlanju memiliki Jerusalem, jauh ketika London masih berupa rawa-rawa. Kami ingin kembali kesana.“
Kepentingan Weismann untuk menguasai Palestine juga di dukung oleh kepentingan inggris untuk menguasai Terusan Suez. Weismann mengatakan, “Mempertahankan Terusan Suez akan mencapai hasil maksimal dengan mendirikan satu Negara Palestine yang terkait dengan kita, dan mengembalikan orang Yahudi ke Palestine di bawah pengawasan Inggris, akan menjamin rencana ini”.(Maulani, 2002:31). Lord Balfour kemudian mengirim surat yang berisi “ Pemerintah Sri Baginda, dengan segala senang hati merestui pembentukan tanah air bagi kaum Yahudi di Palestine, dan akan menggunakan segala upaya untuk memfasilitasi tujuan ini.” Dukungan inggris terhadap berdirinya Israel di atas Negara yang telah merdeka sebelumnya, sangat terkait dengan kepentingan imperialisme global Inggris, seperti yang di jelaskan oleh Winston Churcil pada tahun 1921 “Kalau Palestine tidak pernah ada, maka menurut keyakinan saya, demi kepentingan Imperium, ia harus di ciptakan.” (Maulani 2002:31). Perjanjian Sykes-Pycot dan balfour (2 november 1917) adalah perjanjian yang memudahkan dan mejadi peluang besar langkah Yahudi yang pada saat itu tersebar di berbagai belahan dunia (diaspora karena Israel adalah Negara tanpa tanah air) untuk berpindah dan melakukan eksodus ke Palestine secara besar-besaran.
Heartland theory singkatnya berbunyi “ Siapapun yang menguasai HeartLand, maka ia akan menguasai WordLand.” Heartland mengacu pada kawasan Asia tengah, sedangkan Wordland mengacu pada kawasan timur tengah. Nicholas Spykman, sarjana Amerika menambahkan “Siapapun yang menguasai World Island, maka ia akan menguasai dunia.” Itulah latar belakang mengapa bangsa Israel berbondong-bondong menuju Palestine tidak hanya berpindah, tetapi mereka berusaha untuk menguasai Palestine (yang jelas telah merdeka) dengan cara apapun, baik pengusiran paksa, maupun pengusiran terselubung, dengan memblokade jalur-jalur penting Palestine (Eramuslimdigest 2006:55).
Sumber :
Aiman, Abu. 2007. Rahasia di balik penggalian Al-Aqsha. Ufuk press. Jakarta: XIX+255 hlm.
Maulani, Z.A. 2002. Zionisme: gerakan menaklukan dunia. Penerbit Daseta, Jakarta: XIII+245 hlm.
Eramuslim digest. 2006. Edisi 1.

Tidak ada komentar: